Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 11 Januari 2011

Rudal Darat Penghancur Pesawat

Keganasan SAM Russia

Russia yang menggunakan pesawat angkatan udaranya untuk
point-to-point defense dan serangan massal menitik beratkan kekuatan pertahanan udara bukan dengan supremasi udara seperti yang ditekankan Amerika, melainkan dengan senjata anti serangan udara yang kuat seperti SAM dan artileri anti udara. SAM Russia dibuat seefektif mungkin untuk menangkal dominasi kekuatan udara musuh. Keangkeran SAM Russia berasal dari pengalaman Amerika di Perang Vietnam, dimana baterai S-75 Dvina (SA-2 'Guideline') menjadi penghalang kekuatan udara yang sukses. Kisah lainnya datang dari 2K12 Kub (SA-6 'Goa') yang banyak memakan korban pesawat A-4 dan F-4 AU Israel pada perang Yom-Kippur dan yang paling terkenal adalah kisah "Behind The Enemy Lines", dimana F-16 Kapten Scott O'Grady dijatuhkan oleh varian modifikasi dari baterai tipe ini. Selain itu beberapa pesawat teramat Rahasia milik Amerika seperti U-2 Dragonlady berhasil dijatuhkan oleh baterai S-75 ini (seperti cerita U-2 Francis Gary Powers di atas Russia dan U-2 yang memata-matai Kuba).

Rudal-rudal anti pesawat buatan Russia yang lain pun secara instan mendapat reputasi "garang" macam ini. Ditambah pula kegagalan macam-macam jenis rudal buatan barat seperti rudal Blowpipe Inggris yang dinilai mengecewakan di perang Falklands 1982 serta kontroversi PATRIOT pada operasi Dessert Storm 1990-1991. Pemerintahan Barat sepertinya rutin melakukan 'downplay' terhadap keampuhan senjata-senjatanya, melalui karya-karya ilmiah, seperti yang membahas mengenai rudal Rapier yang juga disinyalir tidak efektif pada perang Falklands, meskipun sempat muncul potongan video yang menunjukkan keampuhan sistem radar Blindfire Rapier ini yang mampu 'melihat' pembom siluman B-2 Spirit yang sedang low-pass dalam acara Air Tattoo International di Fairford.


Mendapat dana dari musuh

Biro Rancang Antei berusaha keras mendapatkan dana tambahan yang sulit dari pemerintah pusat yang saat itu dilanda krisis. Alhasil, mereka beralih kepada Pentagon. Dephan Russia saat itu sendiri tidak mampu membayar gaji pekerjanya dengan tepat waktu, apalagi Antei. Melihat situasi itu, Yefremov mendekati Dephan dan Rosvooruzheniye (sekarang Rosoboronexport, si penjual Flanker yang kita beli). Ia berniat melepas sebuah sistem S-300V kepada Pentagon, karena sudah lama sekali CIA berniat mencuri cetak biru sistem SAM ini untuk Raytheon agar mampu meningkatkan kemampuan PATRIOT.


Yefremov mendekati beberapa petinggi militer Russia, namun mereka berpendapat bahwa ia sudah gila. Russia memang sedang merencanakan untuk menjual sistem rancangan NPO Almaz (rival Antei) S-300PMU (versi ekspor S-300P) yang uzur kepada Pentagon melalui Belarus. Namun pers lokal meributkan hal itu sebagai "penjualan rahasia negara" melalui koneksi Belarus. Padahal, kenyataannya sistem yang dijual itu sudah dipreteli terlebih dahulu oleh petani lokal di Kazakhstan, tempat pengujian rudal tersebut. Rudal S-300PMU tersebut hanya dapat menembak pesawat saja. Melalui disinformasi yang dilakukan Russia, berhasil menyebabkan kebingungan di kalangan pers mengenai apa yang sebenarnya terjual.


Kemudian RRC membeli 4 batallion S-300PMU-1 (versi baru S-300PMU). PLA sedang giat memodernisasi kekuatannya, sehingga kemungkinan mereka akan terus membeli beberapa baterai SAM baru. Hal ini mengendurkan semangat penjualan S-300V kepada Pentagon, mengingat sudah ada sumber dana lain yang lebih "sreg" dimata publik (yakni RRC). Tentu saja, hal ini mencurigakan, bahkan ada yang mengatakan bahwa Russia telah menipu RRC dengan menjual S-300PMU-1. Namun hal itu dibantah karena, varian S-300V ini adalah varian tercanggih yang menjadi rahasia negara.


Yefremov vs Russia

Tetap pada pendiriannya, Yefremov masih ingin melaksanakan penjualan S-300V kepada Pentagon. Ia meyakinkan bahwa perlu waktu satu dekade bagi mereka untuk mempelajari rahasia sistem S-300V ini, sebelum itu, Russia (dirinya) pasti sudah mampu mengembangkan sistem yang lebih canggih dari itu. Ia juga menambahkan bahwa NPO Antei, satu-satunya produsen ABM di Russia, dan perusahaan-perusahaan terkait lainnya seperti NPO Novator akan gulung tikar apabila Moscow tidak menjual S-300V kepada Washington.


Pejabat senior Russia hanya berkilah bahwa sudah terlalu banyak perusahaan warisan dari Uni Soviet, dan mereka harus berjuang sendiri untuk bertahan, sisanya harus tutup atau bergabung dengan lainnya. Melihat tidak adanya cara lain, Yefremov melakukan terror dan ancaman kepada pejabat koneksinya, seorang ketua dari komite Duma (majelis rendah pemerintahan Russia). Sang pejabat pun setuju atas usulan Yefremov dan segera memperjuangkan penjualan ini kepada Dephan Russia dengan segala pengaruhnya. Singkat cerita, penjualan itupun di-gol-kan.


Drama ala Russia

Seperti "penjualan" senjata Russia lainnya, yang kali ini pun diikuti dengan drama spionase, pengkhianatan, serta kerahasiaan khas Russia. Semua itu hanya untuk konsumsi publik, sesuatu yang diinginkan pers yang sibuk mencari sensasi, bukan kenyataan, sesuatu yang disadari para pejabat Russia sejak lama. Yefremov pun dikenai tuduhan pembelotan karena menjual rahasia negara, dan kasus kriminal serta penyidikannya dibuka secara umum oleh Jawatan Keamanan Federal. Koran ternama setempat menceritakan bagaimana sistem rudal tersebut ditarik dari dinas aktif, dipreteli, dan kemudian dikirim secara rahasia dari Russia.


Kenyataannya jauh lebih sederhana dan tanpa bumbu-bumbu film Hollywood yang dibuat menjadi nyata hanya karena dikarang pers, bukan penulis naskah. Sistem S-300V yang dijual ini diserah terimakan dihadapan para pejabat negara termasuk FSB (Dinas intelejen Russia) serta beberapa agen dari perusahaan pengekspor Rosvooruzheniye. AS menerima 2 baterai, termasuk sebuah radar segala arah (Phased Array), sebuah pusat kendali, dua peluncur rudal 9M82 (SA-12 "GIANT") dan dua peluncur 9M83 (SA-12 "Gladiator") dengan 23 rudal (pada keadaan normal, paketnya akan termasuk 144 rudal) senilai USD 90 juta.


NPO Antei hanya menerima USD 45 juta dari nilai tersebut, karena disinyalir Pentagon dan Rosvooruzheniye sedang menjalankan permainan rahasia yang melibatkan dinas rahasia kedua belah pihak. Rosvooruzheniye tidak menjual inti dari sistem tersebut, yakni radar penjejak sektorial, namun Antei sekarang mendapatkan kucuran dana segar untuk setidaknya menajalankan kembali proyek Antei-2500 yang saat ini sudah operasional. Antei kemudian bergabung dengan Almaz membentuk Antei-Almaz yang terus mengembangkan senjata-senjata pertahanan udara yang handal.


Dominasi Senjata Barat di NATO

Ketika Jerman bersatu sekitar awal 1990, beberapa battalion rudal 9K33 Osa (SA-8 'Gecko') dihibahkan kepada rekan NATOnya, Yunani. Yunani meminta Russia untuk memodifikasinya menjadi lebih modern, NPO Antei mendapat tugas ini, dan mereka pun sekalian berpromosi rudal Tor-M1 (SA-15 'Gauntlet') yang dirancang khusus menembak jatuh rudal jelajah presisi seperti AGM-86 ALCM. AB Yunani tertarik untuk mengadopsinya, dan mulai mendekati Rosvooruzheniye untuk bernegosiasi.


Melalui banyak rintangan, Yefremov akhirnya berhasil melepas sistem ini kepada Yunani. Russia yang ekonominya kembang kempis sebelum kenaikan harga BBM dan Gas belakangan ini tidak mampu menyokong dana untuk menghidupi NPO Antei. Sistem Antei-2500 yang baru saja diselesaikan masih belum terkirim karena pemerintah belum sanggup membayarnya. Namun hal itu tidak menjadi masalah bagi Yefremov. RRC kembali membeli SAM dari Antei, yakni sistem Tor-M1, sementara Yunani menambahkan pesanan Tor-M1 mereka.


Saat ini monopoli persenjataan untuk pertahanan anti udara di Eropa yang dipegang AS melalui Raytheon mulai goyah. Yunani menjadi anggota NATO yang sistem pertahanan udaranya memakai produk Russia sepenuhnya. Ahli-ahli Prancis ketika menghadapi ancaman rudal dari Afrika Utara mulai berkonsultasi dengan Yefremov. Korea Selatan yang menerima beberapa tank T-80 sebagai pengganti pembayaran hutang Russia, mulai mengadopsi beberapa kendaraan tempur lain buatan Russia seperti IFV BMP-3, dalam kasus lain, mereka mempertimbangkan untuk membeli Su-35. Melihat ini, keputusan Indonesia beralih kembali ke produk Timur bukanlah hal yang luar biasa.


Indonesia

Indonesia dikabarkan berencana membeli sistem S-300PMU-1 untuk kepentingan Hanud. Sesumbar rudal ini mampu menembak segala jenis pesawat yang ada di dunia ini, termasuk F-22A Raptor dan F-35 Lightning II yang termutakhir.


Bias dari "Military fanboy"

Saya menulis
thread ini dengan sedikit prihatin atas penilaian dan spekulasi berlebihan mengenai persenjataan militer yang terkadang bias dan cenderung memihak, atau bahkan tidak jarang mengedepankan nasionalisme berlebihan. Efeknya pun panjang, mulai dari terbuainya angkatan bersenjata yang bersangkutan, hingga jumawa, berakibat pada turunnya efektifitas mereka. Hal yang terang2an terjadi pada Irak 2003 lalu dan 1991. Begitupula Iran yang disanjung-sanjung sebagai tandingan AS di teluk pun juga mengalami nasib yang tidak jauh beda ketika dihajar begitu saja tanpa bisa melawan ketika Operation Praying Mantis dijalankan tahun 1988.

Saya sendiri sebagai penggemar dunia militer dari sejak SMP mengasosiasikan diri dengan "fanboy" karena mendapat begitu banyak suguhan cerita bias mengenai kehebatan persenjataan tertentu yang terkadang dikarang namun dimuat dalam media-media yang bisa kita nilai "kredibel" sehingga begitu banyaknya pengetahuan yang saya dapatkan tak jarang menyesatkan dan bias. Tidak jarang saya temui cerita tentang saktinya senjata AS yang katanya memenangkan perang-perang modern (namun kalah di perang Vietnam, terpukul mundur di perang Korea, dst), dan kisah2 heboh mengenai "kemampuan sebenarnya" dari persenjataan Russia yang konon jauh lebih hebat dari AS itu. Kisah2 pasukan elit yang berlebihan, argumen2 bias yang dibumbui nasionalisme, dst.


Saya banyak dipengaruhi tulisan-tulisan John T. Reed, seorang guru investasi Real Estat ternama dari Amerika, veteran perang Vietnam cabang US Army, lulusan Westpoint 1968, sekolah Ranger, sekolah Airborne (pasukan para), dan Harvard MBA. Beliau juga anggota sukarela 'Green Berets' (pasukan khusus AD AS), Divisi Pasukan Para ke-82 (82nd Airborne, terkenal semasa invasi Operasi Overlord 1944), Resimen Ranger ke-75. Sebagai orang yang beretika tinggi dan kelewat jujur memegang prinsip "doa kadet" Westpoint (menurut saya, penyebab kegagalan karirnya di US Army), Reed banyak menulis kritikan pedas mengenai militer AS yang dinilai tidak lagi efektif semenjak Perang Dunia 2 (yang menurut dia tidak pernah betul-betul memenangkan perang semenjak itu). Di luar cerita-cerita heboh dari majalah-majalah militer baik lokal maupun luar negeri, dari artikel2 beliaulah saya bisa mendapat gambaran langsung kehidupan korps perwira AD AS dari kacamata orang yang kaku dan super disiplin tanpa kompromi.


Kalau di edisi2 khusus Angkasa digambarkan bahwa Ranger dan pasukan para itu digolongkan satuan 'elit', maka Reed sebagai lulusan Westpoint, beserta teman2 sealumni setuju bahwa kedua sekolah itu merupakan hal yang lumrah dilalui seorang lulusan Westpoint untuk menapaki jenjang karir perwira AD AS. Bahkan Pak Presiden SBY pun lulusan kedua sekolah 'elit' tersebut. Berikut profil beliau
http://www.johntreed.com/authorMIL.html dan artikel2nya http://www.johntreed.com/military.html (dalam bahasa Inggris). Istilah saya, para "military fanboys" pasti akan terkejut membacanya, tidak lain karena hal ini diluar hegemoni militer yang sering digembar-gemborkan media massa, alat-alat canggih yang difiturkan Discovery Channel, dan apa yang sering kita dengar dari ocehan para fanboy.

Pertanyaan Pak Reed: apakah militer itu untuk membela bangsa atau untuk sekedar pamer atau untuk menapaki jenjang karir?


Beliau juga memperdebatkan mengenai "bisnis senjata." Bagi pemain Call of Duty 4, tentunya kita ketika gagal menuntaskan permainan akan sesekali membaca kutipan Jurnal Infantri AS, "
Your weapon is made by the cheapest bidder." Mungkinkah persaingan pasar bebas justru makin menurunkan kualitas senjata menjadi sebatas harga? Pada era perang dingin, dana yang dikucurkan untuk pertahanan begitu derasnya sehingga senjata-senjata aneh nan futuristik pun bermunculan, mulai dari Bomber fantastis XB-70, pesawat mata-mata SR-71, siluman F-117, dll. Hal ini membuat orang pada era itu berkhayal bahwa pada tahun 2001 kita sudah mampu menjelajahi Angkasa (film "2001: A Space Oddysey), namun kenyataannya perang dingin berakhir awal tahun 1990an dan pada tahun 2001 kita belum sampai ke sana.

Reed berargumen bahwa prinsip yang dipegang AB AS sudah ketinggalan jaman dalam menghadapi lawan modern di era pasca-PD2 ini. Kita tidak lagi menghadapi
large standing army -istilah beliau atau pasukan reguler yang berdiri menantang secara utuh, seperti pasukan NAZI Jerman di PD2. Namun lawan yang memakai berbagai macam taktik tipuan dan membaur di khayalak ramai - menggunakan taktik "siluman" yang menyerang tiba2 tanpa disadari. Semenjak PD2, Reed berpendapat bahwa tidak ada perang yang benar-benar dimenangkan oleh Amerika.

Saya pun sebagai fanboy, sempat bingung ketika membaca artikel beliau. Karena hal ini amat berlawanan dengan apa yang sering dimuat media2 hobi militer yang beredar luas seperti majalah Komando, Angkasa, Military journal, acara Future Weapons, History Channel, bahkan forum2 militer dari negara lawan AS seperti IranDefence.net kebanyakan hanya membahas kehebatan alutsista saja. Mereka begitu menekankan faktor "battle proven" serta performa diatas kertas dan hasil latihan, dll. Namun perang sungguhan itu benar2 berbeda. Saya pun menarik kesimpulan, militer sebagai hobi, berbeda 90 derajat dengan militer sesungguhnya. Tidak berlawanan, namun beda tujuan. Namun apa yang saya lihat di Future Weapons, seakan-akan hanya memuaskan hasrat hobi militer saja. Lihat Hezballah, Militan Irak, dan Taliban, mereka tanpa senjata yang laik difiturkan di media2 tersebut, mampu membuat negara adidaya kerepotan tanpa biaya besar.